Ekonomi Palu dan Donggala Lumpuh Akibat Tsunami

Ekonomi Palu dan Donggala Lumpuh Akibat Tsunami

Indonesia kembali berduka. Belum juga pulih dari efek gempa bumi di Lombok, kita kembali harus dihadapkan bencana sekaligus tsunami yang menerjang kota Palu dan Donggala di Sulawesi Tengah (Sulteng). Bencana ini terbilang dasyat. Dengan goncangan 7,4 skala richter, gempa yang disertai gelombang tsunami menyapu daratan hingga setinggi lima meter.

Tak hanya infrastruktur yang rusak, gempa yang disertai gelombang tsunai juga menggulung ratusan rumah, hingga asetaset pebisnis. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Minggu (30/9), bencana ini menewaskan 832 orang, 540 orang dirawat di rumah sakit, dan 16.732 orang harus mengungsi. Jumlah ini bisa bertambah karena hingga masih ada korban jiwa yang belum ditemukan. Selain menimbulkan dampak sosial, bencana ini juga menjadi pukulan telak ekonomi nasional.

Kerugian diperkirakan sangat besar. Pasalnya, sejumlah infrastruktur krusial seperti jalan, pelabuhan, bandara, hingga gardu listrik rusak. Ini belum termasuk kerugian ekonomi yang datang dari banyak bisnis yang terdampak bencana ini. Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyebut kerugian secara ekonomi dari bencana ini sangat besar. Nilai kerugian ditaksir triliunan rupiah, tandas Sutopo.

Kini masing-masing instansi pemerintahan tengah menghitung nilai riil kerugian atas bencana tersebut. Direktur Kenavigasian Kementer i an Perhubungan (Kemhub) Sugeng Wibowo menyebut, bandara dan pelabuhan yang merupakan akses utama masuk ke Palu saat ini rusak. Tapi, semua masih beroperasi meski dalam keterbatasan, ujarnya. Dari BUMN, Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyebut, dari tujuh gardu yang di Palu dan Donggala, lima diantaranya rusak.

General Manajer PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Sulawesi Tengah, Utara dan Gorontalo, Edison Sipahuta menyebut, PLN saat ini tengah menginventarisasi kerusakan infrastruktur kelistrikan di sana. Solusi jangka pendek, PLN akan membawa delapan genset yang akan disebar di posko-posko wilayah terdampak. Unit Manager Communication & CSR Marketing Operation Region VII PT Pertamina Roby Hervindo menambahkan, terminal BBM di Donggala juga terkena dampak.

Kendati begitu, Pertamina berupaya memasok solar untuk kebutuhan rumah sakit di wilayah Palu dan Donggala ini. Dari swasta, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey menyebut, anggota Aprindo menderita kerugian sekitar Rp 450 miliar. Kerugian ini materil maupun non materil, ujarnya.

Kerugian ini bisa melonjak lantaran, efek bencana, ada penjarah terjadi juga di pebisnis ritel. Tercatat, di sana ada Hypermart, Matahari, Ramayana, toko modern seperti Indomaret dan juga Alfamart. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimuthe mengaku, asuransi masih mengidentifikasi nilai kerugian dan klaim. Menurut ekonom ADB, efek bencana bisa memperlambat ekonomi di kuartal IV 2018 ini. Ada kontraksi di kotakota dan provinsi terdampak, ujar Erick Sugandi. Tapi, ekonomi akan terakselerasi dengan upaya konstruksi dan pemulihan.Efeknya bagi ekonomi nasional terbatas karena Jawa dan Sumatra masih merupakan kontributor utama GDP Indonesia, ujar dia.

Author: Slamet