Hindari Kursus Calistung yang Instan Bagian 1

“Saya melihat menjamurnya kursus calis- tung dikarenakan kekhawatiran orangtua, bahwa anaknya tidak akan diterima di SD kalau belum bisa calistung. Padahal SD yang baik tidak mensyaratkan calistung. Selain itu, keinginan orangtua agar anaknya bisa calistung secara instan dengan menyerahkan pengajarannya kepada orang lain,” kata Dra. Gerda K. Wanei MPsi.

Namun, Gerda mengembalikan soal calistung ini kepada kita semua, para orangtua. Ikut kursus boleh saja dengan alasan apa pun, yang penting jangan lupa bahwa di usia prasekolah (TK) yang harus ditekankan adalah penguasaan keterampilan bantu diri alias life skill. Knowledge akan cepat dikuasai di usia sekolah.

Malahan, calistung sebenarnya cukup diselipkan dalam stimulasi yang memperkuat attitude dan skill anak. “Ayo Adek, kamu coba pakai sepatu sendiri. Kaki kiri memakai sepatu di sebelah kiri…. Kaki kanan pakai sepatu yang di kanan…” Hubungan asosiasi (menggabungkan) antara kaki dengan sepatu dari sisi yang sama juga merupakan salah satu dasar matematika.

TANDA ANAK SIAP

Melihat kesiapan anak untuk belajar calistung sebetulnya mudah saja. Lihatlah kemandiriannya dalam hal bantu diri, sudah muncul atau belum. Ini yang harus diketahui lembaga-lembaga kursus itu. Lihat dan observasi dulu secara individual.

• Lecara umum, tandatanda anak siap calistung adalah kemampuan motoriknya sudah matang sesuai usia.

• Kemampuan verbal atau bicaranya sudah lancar.

• Perilaku atau attitude anak di tempat umum bisa dikendalikan.

• Paham instruksi-instruksi sederhana.

• Keingintahuannya tinggi tentang hal-hal yang berhubungan dengan calistung, seperti pada buku atau dongeng dan suka bertanya mengenai angka dan huruf. Jika anak-anak belum menunjukkan hal-hal di atas, bukannya Mama tidak boleh mengenalkan calistung. Boleh saja. Lakukan di rumah dengan konsep learning by playing dan penuh kesabaran. Tak peduli mamanya bekerja di luar rumah atau tidak. Yang dibutuhkan hanya time management.

KONDISI SEBELUM ANAK SIAP

Memegang alat tulis saja belum mantap.

Wajar jika di usia ini, kekuat an jemari tangan dan kematangan dalam memegang alat tulis belum lagi mantap.

Stimulasi: Di TK B (4-5 tahun) anak baru diajarkan memegang pensil. Setelah mantap memegangnya, baru diajarkan mencoret-coret dan mewarnai. Selain itu, ajak anak bermain congkak, ular tangga, kartu, membuat kue bersama, main lilin atau tanah liat, memeras kelapa, memerah sapi, atau membentuk pasir. Untuk berhitung, ajak anak naik turun tangga sambil menghitung.

Sering terjadi intervensi gadget di usia dini.

Tanpa sadar, perkenalan anak dengan gadget di saat ia belum kuat dan matang dalam menggunakan jemari tangan, akan membuatnya kesulitan dalam menulis. Kursus calistung yang menggunakan komputer, sebaiknya hindari saja. Intinya, jangan menggunakan media yang sifatnya instan; anak tinggal mencet-mencet, lalu terlihat tulisannya. Kalau kita belajar grafologi, cabang psikologi yang mempelajari tulisan tangan seseorang, terlihat bahwa kepribadian dan karakter seseorang bisa tercermin dari tulisan tangannya.

Stimulasi: Yang diperlukan adalah kesabaran dan kreativitas Mama. Kue buatan sendiri bisa dicetak menjadi huruf dan angka. Batu kerikil bisa disusun menjadi tulisan. Lalu Mama bisa berkata, “Wah, huruf A-mu sudah dimakan ya?” atau “Ini kue yang diberi angka 1 buat Papa, ya?” Ajari anak mengancingkan baju sambil menghitungnya. “Coba Dek, kamu hitung, ada berapa kancingnya.”

baca juga artikel lanjutannya : https://solotravelblog.org/hindari-kursus-calistung-yang-instan-bagian-2/

Author: Slamet