Hindari Kursus Calistung yang Instan Bagian 2

Senang yang serba instan.

Biasanya, Mama Papa langsung bangga begitu tahu anak balitanya sudah bisa cepat membaca, menulis, atau berhitung. Ingin yang serba cepat atau instan menjadi ciri orangtua Generasi Y (kelahiran 1980-1990-an). Hal ini lantas menular pada anakanak yang juga mau cepatcepat dalam segala hal. Padahal ada yang harus dikuasai anak melalui pematangan kemampuan motorik (kasar atau halus) dan juga kognitif, yang tidak boleh diburu-buru kalau hasilnya mau optimal. Jangan lupa, tumbuh kembang seorang anak mengikuti aturan main tertentu. Kita tidak bisa meloncatinya begitu saja. Loncatan sering kali malah menimbulkan tekanan atau stres pada anak.

Stimulasi: Ikut kursus apa pun, seperti calistung dengan metode yang menyenangkan, boleh saja dilakukan. Pada waktunya, seorang anak akan bisa membaca, menulis ataupun berhitung tanpa menyertakannya pada kursus.

TIP MEMILIH KURSUS

• Pilih kursus calistung yang bisa dipertanggungjawabkan.

• Guru-gurunya harus paham penerapan pendidikan anak usia dini (PAUD): tahu karakteristik anak prasekolah, metode belajar anak prasekolah, cara mengajarkannya, konseling, serta bimbingan pada anak

• Perhatikan, pihak kursus harus menerapkan pedagogis (bimbingan), selain didaktis (pengajaran) dan metodis (metode).

• Pengajaran dilakukan dengan bermain atau learning by playing. Ini prinsip yang tidak boleh hilang. • Kegiatan kursus harus menekankan proses pematangan motorik anak dan tidak menggunakan peralatan-peralatan canggih yang justru melemahkan otot-otot motorik mereka.

• Pilih tempat kursus yang membolehkan anak tetap aktif, tidak duduk terus. Lebih bagus lagi kalau kegiatannya outdoor.

• Kursus harus menyediakan parenting counseling. Setiap anak yang akan ikut kursus, dikonseling dulu. Tak perlu langsung mendaftar. Lihat kematangan anak; apakah sudah siap belajar menulis, membaca atau berhitung. Meskipun seumur, kematangan setiap anak berbeda-beda. Jadi pe ngelola mesti jujur melihat, si calon peserta sudah siap belum.

Sebetulnya menurut Gerda, orangtua tidak perlu khawatir anaknya tidak bisa calistung. Percayalah, di SD nanti ia akan menjadi sama baiknya dengan anak lain yang sudah lebih dulu bisa calistung. Mungkin ia ke tinggalan dari murid yang lain untuk sementara waktu, tapi bukan berarti ia tidak akan bisa mengejar kemampuan temantemannya.

Author: Slamet