Kenaikan Tarif PPh 22 Ikut Picu Lonjakan Harga

Kebijakan pemerintah mengendalikan impor barang konsumsi lewat penyesuaian tarif pajak penghasilan pasal 22 atau PPh 22 berpotensi diikuti kenaikan harga jual ke konsumen. Tarif baru terhadap 1.147 komoditas yang naik antara 2,5 dan 7,5 persen bergantung jenis komoditas ini diperkirakan mempengaruhi arus kas pengusaha, terutama importir. Shinta mengatakan kalangan pengusaha belum bisa memastikan berapa persisnya kenaikan harga barang yang akan terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Daftar lengkap seribuan komoditas yang terkena kebijakan baru, kata dia, masih akan dikaji.

Diskusi dengan pemerintah juga akan dilakukan dalam waktu dekat meski kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110 Tahun 2018 tersebut akan berlaku efektif pekan ini. Penyesuaian tarif PPh 22 diumumkan Rabu pekan lalu sebagai bagian dari upaya pemerintah mengerem laju impor yang dinilai ikut mendorong defisit transaksi berjalan semakin lebar pada semester pertama lalu. Secara ringkas, PPh 22 merupakan pajak penghasilan yang dibebankan kepada badan usaha tertentu, baik milik negara maupun swasta, yang melakukan kegiatan perdagangan berkaitan dengan ekspor, impor, ataupun reimpor.

Pada kebijakan baru, kenaikan tarif PPh 22 dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen diberlakukan terhadap 719 jenis barang, di antaranya keramik, ban, produk tekstil, dan perlengkapan elektronik. Sebanyak 218 jenis barang konsumsi lainnya yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri, seperti sampo, lampu, dan kosmetik, mengalami kenaikan dari yang sebelumnya 2,5 persen menjadi 10 persen. Selain itu, tarif untuk 210 jenis barang mewah, seperti mobil impor utuh dan sepeda motor besar, akan naik dari 7,5 persen menjadi 10 persen.

Kementerian Keuangan telah memastikan seluruh jenis barang yang dikenai tarif baru merupakan barang konsumsi yang tak mempunyai nilai tambah tapi menggerus devisa. Kendati begitu, menurut Shinta, perlu ada kepastian terhadap industri dalam negeri atas pemberlakuan kebijakan tersebut. “Sol sepatu itu masuk kategori barang konsumsi, tapi kan industri sepatu pakai barang itu dalam produksinya,” kata Shinta. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Elektronik Ali Soebroto mengatakan kenaikan harga akibat penyesuaian tarif PPh 22 akan bergantung pada kapasitas setiap importir.

Yang jelas, dia mengungkapkan, produk komputer jinjing, telepon seluler, dan televisi sudah naik harganya sejak nilai tukar rupiah melemah ke level lebih dari 14 ribu per dolar Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Ali bisa memahami kebijakan pemerintah yang ingin menekan impor. Namun, di sisi lain, menurut dia, impor marak karena belum ada industri di dalam negeri yang dapat memenuhi kebutuhan sejumlah produk, seperti laptop.

Ketua Asosiasi Importir Seluler Indonesia Eko Nilam juga belum dapat memastikan perkiraan kenaikan harga. Menurut dia, harga ponsel impor sejak Lebaran lalu sudah melonjak 7-10 persen. “Kalau soal harga, nilai tukar rupiah lebih besar dampaknya,” ujar Eko. Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia Tutum Rahanta mengatakan, sebagai panel terakhir dari distribusi barang, gerai-gerai retail kini harus putar otak agar barangnya tidak terlalu mahal sekaligus tidak membuat margin keuntungan menyusut. Penjualan barang industri dalam negeri juga bukan berarti bisa meningkat lantaran harga bahan baku yang sebagian impor bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah. “Plastik untuk bahan baku sudah naik harganya hingga lima kali lipat secara bertahap,” kata Tutum.

Author: Slamet