Langkah Strategis Autodesk

Berkembangnya industri kreatif di tanah air, khususnya yang berbasiskan teknologi informasi, menjadi kesempatan yang menarik bagi autodesk untuk lebih memperkenalkan produknya. Sentuhan efek yang menakjubkan dalam sebuah film akan memberikan daya tarik tersendiri. Jika kita menengok film-film Holywood yang beredar saat ini hampir seluruhnya dibalut dengan efek komputerisasi. Dengan bantuan tek nologi, pelbagai hal yang tadinya sulit diciptakan, kini justru dapat direalisasikan. Autodesk merupakan salah satu perusahaan terkemuka yang sangat dikenal dalam dunia computer graphic.

Film-film seperti Avenger, Gravity, Frozen terlihat memikat berkat sentuhan software yang dikeluarkan oleh perusahaan yang berbasis di San Rafael, California, AS. Bahkan, berkat sentuhan dari software keluaran Autodesk, seperti Maya dan 3D Studio Max, banyak film yang mendapatkan penghargaan untuk kagegori spesial efek. Pasar yang menjanjikan Bicara mengenai software Autodesk, semisal Maya, Flame dan 3D Studio Max, tentu tak bisa dipisahkan dengan animator, selaku kreator. Tentu banyak yang belum menyadari bahwa Indonesia memiliki orang-orang yang berbakat dalam pembuatan animasi.

Bahkan di antaranya sudah ada bertaraf internasional dan berkarya di beberapa film keluaran Holywood. Oleh karena itu, Indonesia menjadi pasar yang penting bagi pengembangan produk Autodesk, khususnya media entertainment. “Bagi Autodesk, khususnya Media Entertainment, ini merupakan kesempatan yang besar, karena Indonesia memiliki banyak orang yang kreatif. Tantangan terbesar yang dilihat Autodesk adalah bahwa di Indonesia belum begitu banyak orang yang dapat menciptakan animasi dengan produk-produk Autodesk.

Oleh karena kami mencoba memajukan sumber daya agar mereka dapat mengenal dan mengoperasikan produk-produk kami ,” kata Achirul Djamal, Country Manager Autodesk Indonesia. Sebagai perusahaan yang menyediakan perangkat pendukung untuk pengembangan industri kreatif di tanah air, Autodesk pun melihat kendala yang terjadi dalam pengembangan industri tersebut. “Dalam hal animasi, kita masih ketinggalan jauh dengan Malaysia.

Kekurangan kita adalah dalam marketing, khususnya dalam hal pengemasan,” tambah Achirul Djamal. Saat ditanya mengenai strategi Autodesk dalam menggaet pasar di Indonesia, Matthew Dewees, Regional Industry Manager – Media & Entertainment, Autodesk, ASEAN, mengatakan bahwa Autodesk akan berupaya memberikan yang terbaik kepada pelanggan di Indonesia. Melihat pasar Indonesia, animasi menjadi hal terpenting yang perlu dikembangkan.

Oleh karena itu sebagai cara memberikan dukungan yang terbaik kepada pelanggan Autodesk berupaya membantu perusahaan dalam pembuatan animasi dan pengembangan intellectual property. Hal tersebut akan dilakukan dalam suatu bentuk kerja sama. Saat ini Autodesk sudah melakukan kerja sama yang baik dengan Infinite Framework Studio, salah satu studio animasi yang berdiri di Batam, Sumatera. Perlu diketahui bahwa penerapan animasi tak hanya diterapkan di industri film, tapi juga game dan iklan. Bidang industri kreatif seperti ini diprediksi menjadi bidang industri yang sangat menjanjikan di masa mendatang.

Author: Slamet