Manfaat Bercanda dengan Anak

Bradley ayo bergaya dong!” seru Papa Bradley sambil bersiap membidikkan kamera pada putranya yang berusia 4,5 tahun itu. Bradley mengatur posisi di depan kamera dengan mimik serius. Setelah papanya menghitung,” Satu… dua… tiga…!” Tiba-tiba Bradley mengangkat tangan kanannya ke arah kepala, tangan kiri ke pinggang, dan kedua kaki agak ditekuk seperti orangutan. Klik… “Ha…ha…ha…,” sang papa tertawa geli demi melihat gaya putra semata wayangnya yang suka melucu.

POSITIF BAGI EMOSI DAN KOGNITIF

Bersyukurlah Mama Papa yang memiliki buah hati periang, mudah tertawa, dan humoris. Kegembiraan yang muncul saat mereka tertawa merupakan emosi positif sebagai penyeimbang rasa kecewa, marah, atau sedih (emosi negatif). Kelak dengan terbiasa menciptakan lelucon, anak pun terbiasa mengambil sisi gembira dari apa pun yang ditemui dalam kehidupannya. Anak yang happy akan lebih mudah berempati dengan perasaan orang lain. Ini berbeda dengan anak yang kerap bergelut dengan emosi negatif .

Mereka umumnya tak begitu memedulikan perasaan orang lain. Bagaimana agar anak tumbuh menjadi humoris? Anak humoris, kebanyakan berasal dari keluarga yang humoris pula. Sebuah studi menyimpulkan, anak dapat tumbuh humoris bila memiliki orangtua humoris. Jangan lupa, anakanak belajar dari meniru, termasuk meniru rasa humor orangtuanya. “Penelitian kami menunjukkan, anak mulai mengerti humor pada usia sekitar 4 tahun. Penemuan ini membantu kami membangun gambaran akurat tentang Memukau DENGAN HUMOR cara anak mengembangkan kemampuannya dalam memahami pemikiran orang lain,” jelas Dr. Meredith Gattis, psikolog dalam riset tersebut. Saat bercanda dengan anak, cara bicara orangtua akan berbeda. Hal itu juga membantu menumbuhkan rasa humor pada anak-anaknya. “Saat kami memegang boneka di atas kepala lalu tertawa, kebanyakan anak sadar bahwa itu adalah lelucon dan mereka menirunya,” kata Meredith lagi. Riset tersebut berlangsung di Sekolah Psikologi Universitas Cardi? yang telah meneliti balita selama sepuluh tahun terakhir.

Lanjut ke bagian 2 : https://solotravelblog.org/manfaat-bercanda-dengan-anak-bagian-2/

Perhatikan Isi Humornya

Berlelucon tentu dimaksudkan untuk membuat semua bergembira. Bukan hanya kita yang tergelak-gelak, sementara si korban lelucon sakit hati. Jadi, si kecil perlu dijelaskan bahwa kita tidak bisa “bergembira di atas penderitaan orang lain”. Untuk itu ia perlu tahu rambu-rambu membuat lelucon, seperti:

• Lelucon tidak melecehkan orang lain secara fi sik, tidak merendahkan dan melukai perasaan orang lain, juga tidak merugikan diri dan orang lain.

• Karena si prasekolah suka meniru, terkadang guyonannya terinsipirasi dari tayangan televisi. Padahal lelucon tersebut sering mengandung unsur kekerasan fi sik maupun verbal. Jadi, mungkin agak klise, tapi tetap perlu dilakukan, dampingi anak ketika menonton teve. Jelaskan bahwa adegan orang yang terjatuh akibat didorong temannya itu bukan suatu yang patut ditertawai, karena ada pihak yang tersakiti. Perlu diketahui, pada masa prasekolah, anak memiliki sense of adventurous (ingin cobacoba) yang sifatnya unconcious (di bawah sadar). Jadi itulah mengapa saat menonton teve mereka tetap perlu kita damping agar tak coba-coba sesuatu yang negatif atau bisa menyakiti orang lain.

Author: Slamet