pantai lombok

Romantika Pantai-pantai di Lombok

Itu selarik puisi saya yang pernah diterbitkan sebagai pelengkap cerita pendek saya. Tentang matahari senja sebagai mediasi melepas duka. Tapi berbincang soal petang, matahari terbenam dan lautan, Pulau Lombok sebagai negeri pantai memang pantas mengubah paradigma kesendirian serta sepi yang memagut langit jingga. Segala menjadi colorful ketika kaki menginjak pantai-pantai indah di Lombok. Bahkan boleh diralat, tak sebatas pantai saja.

Pelabuhan lama dan puncak bukit di sana juga punya nuansa apik lagi romantis. Pemandangan jajaran pepohonan dan tiang-tiang perahu layar jadi berbias keemasan dipadu hitam pekat karena matahari petang, sungguh mampu menghadirkan suasana penuh keindahan. Kaki kami melangkah sepanjang pelabuhan lama Ampenan.

Meski kini tak lagi ada kapal penumpang singgah di sini setelah dipindahkan ke pelabuhan Lembar, kawasan itu tetap saja punya keramaian khas dusun nelayan. “Potret” aktivitas keseharian macam istri nelayan mengantar suami ke perahu sembari membawakan bekal banyak terlihat di sini. Atau juga para perempuan yang berkumpul di warung-warung penjual lauk-pauk siap saji, sembari menunggu lelaki keluarga mereka pergi melaut tampak pula di sudut-sudut perkampungan.

Sementara para pria, punya kegiatan yang kurang banyak. Seperti memperbaiki jejaring yang sobek tersangkut karang, menyiapkan perahu serta membenahi barang-barang lainnya –termasuk motor perahu dan bekal dari istri—sebagai persiapan melaut setelah matahari terbenam.

Langkah kaki terhenti di sebuah pura Hindu di ujung kampung nelayan pelabuhan lama Ampenan. Tetabuhan khas Pulau Dewata terdengar memenuhi atmosfer senja. Musik pentatonis mirip pengantar tarian Bali macam Panji Semirang seperti yang biasanya kami dengar di Ubud? Betul! Dan bukannya berasal dari gendang beliq, salah satu peranti musik tradisional suku Sasak di Pulau Lombok.

Rupanya, petang itu masyakarat Hindu Bali di Ampenan tengah melakukan prosesi persiapan Ngaben buat anggotanya yang meninggal di pulau ini. Tata caranya, masih merunut seperti leluhur mereka dari Pulau Dewata.

Kejadian ini, merefleksikan apa yang pernah saya dengar dari Lalu Jayadi –seorang sahabat kami, bermukim di Mangsit, dekat Pantai Senggigi. Bahwa, keunikan Lombok dibanding Bali adalah, “Apa yang ada di Bali, ada juga di Lombok.

Tapi yang ada di Lombok, belum tentu ada di Bali!” Ya, di pelabuhan lama Ampenan itu pun masih ada “napas” Bali sebagaimana direfleksikan lewat hadirnya Pura Hindu yang digunakan komunitas dari Pulau Dewata yang ada di sini.

Lepas Ngaben, abu dalam wadah pun dilarung dalam wadah kecil yang dibawa pakai perahu ke tengah lautan menuju matahari senja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *