Zte Ingin Bicara

Pertengahan Februari ini sejumlah vendor dan manufaktur mulai menggeliat. Retail-retail yang menjadi ujung tombak penjualan juga mulai mengais rezeki. Apalagi iPhone 6 (dan 6 Plus) secara resmi telah mejeng di toko-toko milik Erajaya Group dan Trikomsel Group. Tidak terlalu garang, tetapi menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar. Kendati Apple tetap tak bergeming untuk lekas-lekas melakukan tindakan serius ke Indonesia. Sebuah retail online juga telah pula menyemplungkan OnePlus One ke dalam daftar barang buruan konsumen. Produk satu ini cukup menyita perhatian, meski tak seheboh Xiaomi, tahun silam. Seri CyanogenMod satu ini boleh disebut bintang Karena bekal teknologi dan fiturnya layak dapat acung jempol. Meski kemudian ada kabar tak sedap, Cyanogen tak bakal meneruskan OS-nya ini.

Zte Ingin Bicara

Kemudian, dua nama lokal, Nexian dan Evercoss tengah lekas bergegas merilis seri AndroidOne (seperti apa AndroidOne, baca Sinyalemen Sinyal edisi 215). Mengapa saling ingin jadi yang pertama? Sebab, tahun 2015 merupakan angin segar buat smartphone-smartphone kelas mid-end (bahkan yang mengacu ke low-end). Di kelas highend sudah terlalu padat, ramai, dan telah sulit lagi mencari terobosan baru. Sementara di sana, konsumen sudah menggenggam satu atau –malah- dua smartphone. Durasi untuk mengganti atau beralih ke seri high-end baru semakin lama. Tetapi arus keinginan kelompok low to mid justru semakin tinggi. Indikasinya adalah saat Asus mendadak bikin price war, kemudian ditantang oleh Xiaomi. Efeknya, produsen lokal musti cepat-cepat ambil siasat. Tekanan dari luar kian kencang.

Salah satu yang bakal menyeruak dalam waktu dekat adalah ZTE. Nama satu ini sempat terdengar empat atau lima tahun silam. Tapi tak konsisten. Akhir tahun 2014 mulai berbenah. Tahun 2015 sebuah seri, Blade V5 datang. “Semua sudah clear, kami akan sangat serius tahun ini,” ujar Wang Feng, Managing Director ZTE kawasan Singapura dan Indonesia, tempo hari kepada saya. Tak tanggung-tanggung produsen yang semula berbisnis semikonduktor ini siapkan lebih dari lima seri tahun ini. Produk-produk ZTE sesungguhnya sangat andal. Simak saja subbrand Blade lain atau Nubia. Bahkan lebih banyak menggandeng Qualcomm untuk memasok chipset. Wang Feng yang akrab disapa Fritz menyodorkan kepada saya beberapa gacoannya yang akan dirilis tahun ini. Kepercayaan diri ZTE tumbuh. Indonesia market besar. Sistem dan jalur distribusi dibenahi.

Kampanye dan promosi dibuat. Ketersediaan barang dijamin. Kendati berkantor tak luas di bilangan Kuningan, Jakarta, saya merasakan aura dan semangat maju awak baru ZTE Indonesia. Jangan lupa pabrikan ini pun telah siap memasok produk 4G LTE. Tetapi yang jauh lebih penting adalah bahwa orang-orang ini cukup memahami karakter dan keinginan konsumen negeri ini. Kebijakan harga yang sangat sensitif mereka sadari. Menentukan harga jual juga bukan persoalan gampang. Sebutlah misalnya ZTE Blade V5 yang berkamera 13 MP dan 5 MP, dengan prosesor quadcore, KitKat dibanderol Rp1,69 jutaan. Saya yakin betul, brand-brand luar sekelasnya mulai memanaskan mesin, saat ini oleh akibat picuan ZTE. Jika penetrasi ZTE sukses, maka babak baru telah dimulai. Prediksi saya, akan mulai terjadi fragmentasi yaitu; 1. Segmen Rp1-2 jutaan, 2. Segmen di bawah Rp1 jutaan. Yang menyamakan keduanya adalah, tidak ada lagi ponsel dengan spek rendah yang hanya akan digilas oleh pasukan pemberani ini. Kecuali kalau mau pasang harga di bawah Rp500 ribu. Siapa berani?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *